Langsung ke konten utama

Postingan

SOLUSI BEBAS MATI GAYA

  Suasana Upacara Hari Pendidikan Nasional 2023  (dok. pribadi)  Bebas Mati Gaya 1: Apa makna bebas bagimu? Pertanyaan itu muncul di kepala saya saat duduk istirahat di dalam kantor, selesai mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional 2023. Sambil minum, pandangan saya lalu tertuju ke dua objek: rekan kerja saya yang duduk sambil menggulir layar laptop dihadapannya mencari referensi mengajar dan sebuah router internet yang berkedip-kedip hijau di dinding, dekat dengan posisi duduk rekan saya.  Kedua objek itu saya amati bergiliran. Keduanya sama-sama hidup , pikir saya. Meski hidup-mati satu objek bergantung pada daya listrik. Keduanya juga sama-sama bekerja dan bebas , pikir saya lagi. Rekan saya bekerja sesuai profesinya dan bebas berselancar di dunia maya atas bantuan si router. Begitu pun dengan si router, yang bekerja secara bebas membantu rekan saya dan siapa pun yang membutuhkannya. Terlebih, jangkauan  internet Provider yang satu ini sudah meluas sampai ...

Solusi Healing ketika Pening

Beberapa hari lalu saya berkunjung ke rumah seorang budayawan Lombok. Beliau sudah sepuh. Saat saya tanya kelahiran berapa, beliau menjawab bahwa  saat perang Pujut pertama di Lombok dan masa orde lama, usianya sudah belia. Singkatnya, beliau lahir tahun 1958. Tentu saja saya yang lahir di masa reformasi membuat perbedaan usia kami terbilang kontras. Kami lalu bercerita dan saling bertukar pandangan tentang lebih enak hidup di zaman dulu atau sekarang. Hingga sampai pada satu kesimpulan awal: semua zaman ada enak dan tidak enaknya.  Kata beliau, zamannya terasa menyenangkan saat bisa bersahabat dengan bulan. Bulan menjadi penunjuk jalan dan menjadi teman sepanjang perjalanannya saat listrik belum ada dan kendaraan masih langka. Namun di zaman beliau, Ia mengaku kesulitan dalam hal komunikasi dan perolehan informasi.  "Orang zaman dulu masih mengandalkan surat pos nak, berbeda dengan sekarang. Semua serba instan dan cepat. Secepat menjentikkan jari," pengakuannya kepada sa...

A child Called It dan Fenomena Kekerasan abad 21

A child Called it  adalah buku karya Dave Pelzer berisi kisah nyata tentang pengalaman buruknya di masa kecil dulu. Tentang bagaimana ia mengalami kekerasan dari si Ibu, yang membuat saya dan pasti semua pembaca harus menghela napas panjang membuka setiap halamannya. Saya ingat, pertama kali berkenalan dengan buku ini di waktu yang tidak tepat. Saat itu saya menjadi fasilitator anak di Kinder Oase institute, salah satu yayasan milik seorang Jerman. Situasinya tepat saat pandemi baru muncul. Lalu, saya ditugaskan untuk tetap  up to date  tentang berita Covid-1 sebagai referensi keberlanjutan program kedepannya, dan sebagai bahan untuk sama-sama mendiskusikan nasib anak-anak yang saat itu di asrama  Wohn Gemeinshaft.  Walaupun pada akhirnya, demi kesehatan dan keselamatan bersama, diputuskan untuk memulangkan mereka ke kampung halamannya di Jagaraga, Kediri. Program pun lalu dialihkan ke project berbasis  rumahan,  seperti lomba berkebun dan eco-bric...